Selasa, 14 Desember 2010

Pembodohan Oknum Akademisi

Saya bertanya-tanya dalam hati saya
Saat saya ikut dalam kepanitiaan yang menggelar event yang berskala internasional.
Awal mulanya lancar tanpa hambatan yang berarti dalam proses persiapan acara.
Saya pun tak begitu kaget,karena memang seluruh panitia adalah para akademisi-akademisi yang berasal dari universitas yang baik dan favorit.
Mereka ramah  dan optimis dalam pengerjaan tugas-tugas persiapan acara ini.Yang kurang faham diberi arahan dengan bahasa dan tutur kata yang halus dan mudah dimengerti.Sungguh begitu menyenangkan bisa tergabung dalam tim ini,hingga saya teringat akan tim yang pernah saya ketuai waktu lalu.
Tapi . . .
Itu hanya sesaat,semua berubah total saat hari acara dimulai.
Suasana tegang,mencekam dan penuh ancaman dari para senior dengan gaya bak preman pasar.Mereka seperti kebakaran jenggot meski tak punya jenggot.Itu terjadi ketika adanya beberapa kesalahan yang dilakukan oleh temen-temen panitia dilapangan,yang tak diharapkan.
Acara evaluasi berubah bak persidangan yang akan mengadili terdakwa dengan hukuman mati.
Saya waktu itu memang tak ikut dalam evaluasi penuh tangis dan teriakan benci tersebut,karena saya memang tak diPJkan dilapangan.
Temen-temen mencoba bercerita pada saya,tentang pengadilan yang tanpa adanya kuasa hukum dari pihak terdakwa.
Akupun terkaget-kaget,ikut merasa sedih dan miris.Tapi hati ini penuh dengan jawaban-jawaban yang tak kukira akan menjawab pertanyaanku mengenai kaum akademisi.
Ini memang hanya oknum,dan kusebut oknum akademisi itu adalah " orang-orang goblok yang merasa pintar hanya karena mampu terdapat embel-embel didalam namanya"
Sungguh ironis memang,tetapi ini kenyataan yang ada.
Aku berharap oknum-oknum akademisi ini mampu tuk berubah,tentunya dalam mengelola managemen marah meraka.Karena kaum akademisi begitu tinggi untuk dijatuhkan oleh oknum-oknum yang tabertanggung jawab.
Semoga